KhazanahMateri KuliahNewsPeristiwaproduct knowledgeSalamSlide

Menelisik, Perjalanan Hidup Pakar Hebalis Tuan Haji Ismail dan HPA International

HPAInternational.biz – Kalau kita bertanya kepada masyarakat Malaysia,  produk obat dan herbal yang telah mereka kenal?  Tentu mereka akan menyebut nama besar Herba Penawar Al-Wahida, atau biasa disingkat HPA. Kenapa demikian sebab HPA telah tercatat sebagai perusahaan penjual yang paling dicari dan terbesar mengolah produk-produk berasa dari hasil pertanian.

Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad
Tuan Haji Ismail bin Haji Ahmad

Diperkirakan terdapat 260 lebih produk herbal yang telah beredar saar ini tengah masyarakat dunia. Mereka memiliki empat pabrik di Perlis, Kedah, dan Sabah. Bahan baku mereka pasok sendiri. Mereka punya perkebunan sendiri seluas 500 hektar.

Mereka juga memiliki peternakan ayam organik untuk menyuplai 5 restoran Radix Fried Chicken di Kedah. Mereka juga mendirikan pabrik saus sambalnya sendiri.

Bahkan, minuman karbonasi (cola) yang selalu ada di restoran ayam goreng, berhasil pula mereka buat. Namanya Radix Cola. Soal rasa, tak jauh beda dengan produk Coca Cola.

Produk-produk itu mereka jual di berbagai gerai yang terserak di seluruh Malaysia, terutama di Perlis dan Kedah. Pemasarannya sebagian besar menggunakan sistem multi level marketing (MLM), sebagian lagi ada yang dijual langsung.

Kini, mereka telah mengembangkan sayap bisnisnya. Tak lagi hanya bergerak di bidang pertanian (agro), tapi juga bidang perhotelan, jasa pariwisata, dan toko buku.

Siapa sosok di balik kesuksesan HPA? Dialah Ismail bin Ahmad, yang akrab disapa Tuan Haji. Pria murah senyum kelahiran Perlis ini adalah pendiri sekaligus motivator bagi seluruh jaringan HPA.

Yang menarik, semua bisnis yang kembangkan HPA tidak semata bertujuan meraup keuntungan. Ada mimpi yang ingin diwujudkan. Yakni, membanjiri dunia dengan produk-produk halal. Ketika kaum Muslim giat mengembangkan sistem ekonomi Islam, pada saat yang sama mereka telah meruntuhkan perekonomian jahiliyah.

Menurut Tuan Haji, semua yang ia kembangkan ini hanya sekadar prototipe (contoh). Artinya, bisa dikembangkan di mana saja.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Sebenarnya, kata Ismail, HPA sudah masuk ke Bumi Pertiwi sejak sembilan tahun lalu. Sayangnya, di negeri ini HPA tak berkembang sebagaimana di negara asalnya.

“Ada beberapa penyebab,” kata Tuan Haji Ismail saat diwawancarai Ahmad Damanik dan Mahladi, wartawan Suara Hidayatullah, yang menemuinya usai santap siang di Radix Fried Chicken, Sungai Petani, Kedah, Malaysia, awal Agustus silam.

Sebuah hasil wawancara dengan hidayatullah.com waktu lalu, dilansir di berbagai laman media antara lain, sebagai berikut;

Wartawan: Apa penyebabnya? Bagaimana pula Tuan Haji mewujudkan impiannya itu? Berikut wawancara selengkapnya. *

Tuan Haji: Apa cita-cita besar yang ingin Anda wujudkan?

Insya Allah, kami ingin menguasai ekonomi Malaysia dan dunia. Yang kami buat sekarang hanya prototipe. Kami membuat contoh hotel, kedai, dan rumah makan. Semua adalah contoh yang bisa dikembangkan di semua tempat dan daerah.

Apa cita-cita besar yang ingin Anda capai dan kapan cita-cita itu mulai dibangun?

Awalnya, kami tidak menyangka, usaha ini akan berkembang seperti sekarang ini. Sebab, semula kami hanya berniat ingin menolong orang lain dengan memberi obat-obatan yang baik.

Kami tidak menyangka kalau angka penjualan produk ini begitu tinggi, mencapai 2 juta ringgit Malaysia (sekitar Rp 6 miliar). Dari keuntungan itu, muncullah cita-cita besar yang ingin kami lakukan untuk umat. Maka, kami membuat rencana untuk menguasai pasar halal di Malaysia.

Menguasai ekonomi Malaysia tentu bukan perkara mudah. Apa strateginya?

Kami berusaha mempertahankan kesetiaan pengikut (konsumen). Kalau kesetiaan pengikut dapat kami pertahankan maka saya yakin kami bisa berbuat apa pun yang kami inginkan bersama.

Apa yang Anda lakukan?

Masyarakat saat ini sedang dahaga dengan produk-produk halal. Mereka mencari, tapi yang mereka dapatkan hanya sekadar slogan saja. Tak dapat dipraktekkan.

Mereka punya cita-cita memiliki produk halal sendiri tapi tak punya solusi. Kami mencoba memenuhi harapan mereka. Kami ingin membuktikan bahwa apa yang menurut mereka tak bisa disediakan itu sesungguhnya ada.

Jadi menurut Anda tidak ada kata darurat untuk produk halal?

Ya. Tidak ada.

Pesaing dengan produk yang kehalalannya masih diragukan sudah lama memulai pekerjaan ini. Bagaimana Anda yakin bisa menang?

Kami mempunyai kekuatan sendiri, yakni tenaga ahli. Hanya saja, selama ini kami tidak sanggup menyatukan tenaga ahli yang kita miliki. Apa yang dilakukan HPA hanya menyatukan keahlian yang dimiliki oleh setiap orang. Kami percaya bahwa setiap diri punya potensi yang bisa dikembangkan. Kalau itu bisa kami lakukan, akan mempercepat proses ini. Contoh, kalau ada seorang punya keahlian dalam suatu bidang maka kita hanya perlu membantu ia mengembangkan keahilian itu. Kami perlu memberikan pengarahan, selanjutnya produk yang mereka hasilkan tidak perlu dijual ke mana-mana. HPA yang akan memasarkannya.

Bagaimana kondisinya saat ini?

Selama ini kami tidak mampu menyatukan mereka. Maksudnya, tenaga-tenaga ahli itu sekarang pecah. Tidak ada satu organisasi pun yang bisa menghimpun mereka hingga bisa bersama-sama menerapkan keahliannya.
HPA menyediakan ruang untuk mereka, apa pun keahliannya. Jika ada yang ahli membuat film, menulis, atau yang lain, kami akan mendukung mereka. Mereka akan kami dorong untuk menjadi besar.

Anda pernah mengatakan ingin menghapus sekat negara. Bagaimana konsepnya?

Sekat-sekat itu diciptakan oleh negara-negara penjajah (Barat). Mereka berusaha memecah dan menjajah. Sepatutnya tidak boleh ada persengketaan antara Indonesia dan Malaysia karena kasus Sempadan. Sebab, orang Islam itu bersaudara. Sebagai orang Islam, kita gembira bila ada persaudaraan di antara kita.

Apa tantangan terbesar umat Islam saat ini untuk bisa berkembang?

Tak ada model atau contoh yang bisa diteladani saat ini. Yang kita bicarakan hanya teori dan pandangan. Tidak ada contoh yang bisa dirujuk.
Kita juga tidak yakin bahwa kita bisa sukses. Kita lebih senang bekerja dengan orang-orang non Muslim ketimbang berupaya sendiri.

Persoalan ini yang diantisipasi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) pada masa lalu. Beliau mewujudkan contoh. Dan, contoh itu yang memberikan keyakinan para sahabat untuk hijrah.

Jadi, mimpi yang sedang dibangun ini akan menuju ke mana?

Kita akan kembali kepada sistem khalifah. Kita akan kembali kepada pelaksanaan hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT) yang sempurna dalam semua bidang.

Kalau kita bicara ekonomi, kita akan mewujudkan ekonomi Islam. Nah, saat kita mengembangkan ekonomi Islam, pada saat yang sama kita meruntuhkan ekonomi jahiliyah.

Jadi, bila mimpi besar kita adalah mengantar Islam menguasai dunia maka ekonomi merupakan salah satu pilarnya.

Menurut Anda, bangkitnya ekonomi Islam itu dimulai dari mana?

Bangkitnya ekonomi Islam bukan dimulai dari Timur atau Barat. Islam akan dibangkitkan oleh orang-orang yang beriman di manapun mereka berada.

Kita tidak boleh mengatakan kebangkitan itu dimulai dari Malaysia, Indonesia, atau tempat-tempat lainnya. Saya melihat, bila di suatu tempat terjadi tekanan yang kuat terhadap umat Islam maka di situlah akan terjadi kebangkitan Islam.

HPA bakal menjadi ancaman bagi produk-produk Yahudi. Benarkah begitu?

Bukan saja mereka menganggap kami sebagai ancaman, tapi kami sendiri yang sengaja memposisikan diri sebagai ancaman buat mereka. Bisnis yang sedang kami geluti sekarang ini adalah isyarat buat mereka. Bisnis mereka yang sebelumnya tak pernah ada penantangnya, kini sudah ada, dan penantangnya itu mulai membesar.***

Merintis Bisnis dari Usrah

Visi dakwah sudah tumbuh sejak awal Herba Penawar Al-Wahida (HPA) dirintis. Maklum, para perintis itu adalah aktivis dakwah.

Mulanya mereka tergabung dalam satu kelompok pengajian yang rutin menggali ilmu agama secara terus menerus. Kelompok sejenis ini biasa disebut usroh. Jumlah mereka ada 10 orang.

Saat itu, menurut Ismail bin Ahmad, kawan-kawannya masih bekerja di tempat masing-masing. Begitu juga Ismail, masih belum bisa sepenuh waktu mendedikasikan diri di bisnis ini. Ia masih bekerja di instansi pemerintah.

Tahun 1995, Ismail keluar dari pekerjaannya. Ketika itu, ia diminta oleh sebuah partai Islam di Malaysia untuk menjadi calon legislatif. Karena ajakan itu ia terpaksa keluar dari pegawai negeri. “Kalau saya ikut pemilu, saya tidak bisa bekerja pada pemerintah,” ujarnya.

Namun, pemilihan umum belum di mulai, ia tiba-tiba berubah pikiran. Ia merasa harus ada orang yang mengorbankan waktunya untuk membangun ekonomi umat. Ismail kemudian mundur dari ajang kompetisi pemilu. Ia mulai fokus mengembangkan bisnis. Tahun 1997, ia membangun HPA di Kuala Perlis, Malaysia.

Bagaimana HPA pertama kali dibangun?

Alhamdulillah, saya mulai berniaga sejak 1986. Ketika itu saya hanya memiliki usaha herba kecil-kecilan di rumah. Itu pun hanya sekadar untuk membantu orang-orang yang memerlukan pengobatan herba.

Waktu itu, saya masih bekerja di pemerintah. Baru pada 1995, saya meletakkan jabatan. Sejak itu, saya menekuni industri ini secara serius.

Mengapa harus meletakkan jabatan?

Sebenarnya ketika itu saya diminta oleh Partai Islam Semalaysia (PAS) menjadi calon anggota legislatif. Itu artinya saya harus keluar dari pemerintahan.

Tapi karena saya tidak jadi ikut dan tidak ada pekerjaan lain yang bisa saya tekuni maka industri ini saya seriusi. Saya mulai bekerja penuh waktu untuk bisnis ini.

Pada tahun 1997, saya berhasil membangun kawasan industri di Kuala Perlis. Di situlah pertama kali industri ini berkembang. Yang pertama saya bangun adalah industri herba.

Kapan mulai merekrut jaringan?

Tahun 1997, setelah selesai mengurus Akta Penjualan Langsung, saya mulai membangun jaringan. Sebelum itu, saya masih menggunakan sistem single level marketing.

Mengapa harus herba?

Karena hanya ini yang saya bisa.

Mengapa penjualannya memakai sistem multi level marketing?

Karena permintaan dari para pelanggan HPA. Awalnya, saya juga tidak setuju. Namun, setelah pemimpin jamaah mengatakan bahwa sistem ini tidak bertentangan dengan Islam, saya mulai menggunakan sistem itu.

Bagaimana menempa para pemula agar memiliki visi yang sama?

Orang awal yang bersama-sama membangun HPA adalah anggota kelompok usrah saya. Pengajian kelompok ini sudah berjalan sejak lama. Mula-mula mereka tidak bekerja pada HPA, melainkan bekerja di tempat masing-masing.

Selanjutnya mereka semua mundur dari pekerjaan masing-masing dan ikut memperkuat barisan HPA. Merekalah yang kini menjadi tenaga utama bisnis ini.

Ada berapa orang?

Sebelas orang. Hampir seluruh general menejer di perusahaan ini berasal dari kelompok pengajian saya dulu.

Apa ada murabbinya juga?

Ya, ada murabbinya, berasal dari induk kepemimpin partai Islam.

Bagaimana menanamkan kesadaran pada generasi berikutnya bahwa bisnis ini bukan sekadar perniagaan tapi juga dakwah?

Waktu itu kami telah rutin menjalankan amalan-amalan seperti membaca al-Matsurat, melakukan tadzkirah setiap minggu, dan mengadakan pertemuan tiap bulan. Jadi, semua karyawan mengikuti usrah itu. Dari usrah kecil sampai usrah umum.

Bagaimana dengan generasi berikutnya?

Pada generasi berikutnya sistem ini tetap berlaku. Pembinaan biasanya dilakukan oleh ketua-ketua yang dipilih melalui usrah. Juga dilihat komitmen mereka dalam beragama.

Dalam bisnis biasanya ada masa naik dan turun. Apa HPA pernah mengalami itu?

Kami pernah merasakan kondisi itu pada 1999, ketika sedang terjadi krisis ekonomi. Kami sudah tidak mampu lagi menggaji karyawan selama 3 bulan.

Akhirnya, dari jumlah karyawan 250, tinggal 100 orang yang bertahan. Mereka bukan tidak setia tapi karena tidak memiliki biaya lagi untuk hidup. Kami tidak bisa memberikan apa-apa. Kami terpaksa tidak membayar gaji dengan uang, tapi menggantinya dalam bentuk barang seperti beras, minyak, gula, dan keperluan harian lainnya.

Apakah saat itu produksi jalan terus?

Ya, kami masih tetap mengeluarkan produk meskipun daya beli konsumen sangat kurang. Setelah tahun 1999, kami mulai pengembangan produk, tidak hanya bertumpu pada pengobatan tapi juga produk lain yang berkualitas dan halal. Jika pada masa awal moto perjuangan kita, “Herba Menuju Kecemerlangan”, setelah itu kami mengganti motto dengan “Produk Halal Tanggung Jawab Bersama”.

Berapa lama bisa pulih secara ekonomi?

Empat tahun. Tahun 2003 baru terlihat tanda-tanda kembali menguasai pasar. Kami melempar produk-produk utama kepada masyarakat. Produknya pun mulai beragam.

Bagaimana dukungan pemerintah Malaysia?

Alhamdulillah, pemerintah Malaysia mendukung. Pemerintah ingin suatu saat nanti Malaysia menjadi pusat produk halal dunia. Kami memanfaatkan cita-cita itu untuk memacu semangat kerja agar segera mengeluarkan produk-produk halal.

Kalaulah semua negara Islam di seluruh dunia membolehkan pemasaran produk-produk halal ini di negara mereka, sudah tentu umat Islam akan menguasai ekonomi.

Cuma di Malaysia, yang mengambil peluang ini orang-orang non Muslim. Dua pertiga industri halal di Malaysia dikuasai oleh non Muslim. Padahal halal ini soal agama, bukan soal bisnis. Halal ini soal tanggung jawab.

Karena itu saya sampaikan kepada masyarakat, halal saja tidak cukup. Harus juga dilihat siapa yang memproduksinya. Ini tanggung jawab kita sebagai seorang Islam. Kita tidak boleh hanya mengonsumsi produk halal, namun juga memastikan bahwa uang yang keluar itu bisa kembali kepada umat Islam.

Bagaimana serbuan produk-produk tidak halal di Malaysia?

Luar biasa parah, sama parahnya dengan masalah akidah. Banyak umat Islam belum berakidah secara benar. Mereka mencampur adukkan antara akidah Islam dengan pemahaman-pemahaman lain.

Krisis akidah juga membuat umat Islam tidak sensitif. Kita hampir tidak bisa melepaskan diri dari produk yang tidak halal. Padahal jika akidah kita benar, akan tumbuh kesadaran tentang halal-haramnya makanan.

Apabila pemahaman masyarakat terhadap fikih lebih mendahului daripada akidah, maka itu akan menimbulkan masalah. Mereka pikir cukup dengan mendirikan shalat 5 waktu, padahal masih ada tanggung jawab lainnya.

Dari mana Anda memperoleh ilmu pengobatan herbal?

Dari keluarga. Asal mulanya dari datuk (kakek). Setelah beliau meninggal ilmu itu ia wariskan kepada ayah dan saudara saya, kemudian baru ditularkan kepada saya.

Saya olah ilmu pengobatan herbal itu sehingga hasil yang didapat bisa lebih baik. Saya teliti dan kaji secara ilmiah lewat bantuan teman-teman dari universitas.

Pernah menempuh pendidikan pengobatan herba secara formal?

Tidak! Sebab saat itu memang belum ada sekolah khusus yang mempelajari hal ini. Belum ada orang yang betul-betul pakar di bidang pengobatan herbal. Saya ditempa oleh pengalaman selama bertahun-tahun.

Sekiranya kami bisa menghimpun ilmu dan pengalaman itu menjadi satu paket ajaran formal, insya Allah kita bisa melahirkan herbalis-herbalis yang handal.

Sekarang ini kita tidak bisa melahirkan herbalis-herbalis keluaran sekolah tinggi formal karena sekolah seperti itu belum ada. Andaikan ada para pengajarnya tidak memperoleh ilmu pengobatan herbal dari sekolah formal juga. Mereka mau belajar dari mana?

Jadi konsentrasi kami saat ini adalah membuat paket-paket ajaran seperti juga dilakukan oleh negara-negara yang lebih maju ilmu herbalnya. Cina, misalnya. Mereka mengajarkan ilmu pengobatan herbal ini secara nonformal, dari generasi ke generasi. Mereka bukan doktor yang belajar ilmu ini selama dua atau tiga tahun di sekolah formal. Namun, mereka sudah menggeluti bidang ini selama 50 sampai 60 tahun, bahkan sudah sampai generasi keempat.

Cita-cita saya sekarang ini adalah mendirikan sekolah tinggi herbal. Dari situ barulah kita bisa melakukan pengkajian lebih mendalam tentang herbal.

Bagaimana respon dunia terhadap pengobatan herbal?

Kalau herbal Melayu bisa dikelola dengan baik, Insya Allah pasar dunia akan menerimanya dengan baik.

Apakah ilmu pengobatan ini Anda wariskan kepada anak-anak?

Insya Allah. Tapi ilmu pengobatan itu sebenarnya pemberian Allah seperti halnya ilmu melukis. Tidak bisa sekadar diwariskan. Seorang pelukis tidak serta merta bisa memunculkan imajinasinya ke dalam canvas tanpa sebelumnya membayangkan objek apa yang akan ia tulis. Nah, kemampuan membayangkan inilah yang menentukan bagus tidaknya lukisan mereka. Begitu juga dengan pengobatan herbal.

Sekarang ini saya menanti munculnya potensi anak-anak saya dalam bidang pengobatan herbal ini. Saya percaya suatu saat nanti anak-anak saya akan bisa meneruskan ilmu pengobatan ini. Mereka akan mencari-cari saya dan mencari pula buku-buku yang saya tulis.

Melebarkan Sayap Hingga ke Timur Tengah

Tak ada usahawan yang tak ingin melihat usahanya berkembang lebih besar. Tuan Haji Ismail bin Ahmad pun demikian. Ia ingin melebarkan sayap usahanya ke luar Malaysia. Salah satu negara yang sekarang ia bidik adalah Indonesia.

Sebetulnya sudah sembilan tahun industri Herba Penawar Al-Wahida (HPA) merambah pasar Indonesia. Hanya saja Ismail merasa belum optimal. Ada faktor penghambat yang terus melilit mereka selama sembilan tahun itu.

Syukurlah, Ismail mengaku, penghambat itu baru saja tertangani belum lama ini. Sekarang strategi pemasaran ia ubah. “Kami sedang mempersiapkan kader-kader terbaik di Indonesia. Kami akan mencari teman-teman setia yang mau bersama-sama membangun ekonomi umat,” katanya.

Tak hanya Indonesia, Ismail juga sedang membidik pasar Timur Tengah seperti Arab Saudi, Sudan, Mesir, dan Dubai. Cuma, negara-negara itu agak sulit dimasuki karena system ekonominya tertutup. “Mereka tidak mau uangnya mengalir ke luar negeri,” kata Ismail.

Padahal, Ismail mengaku tak hendak mengeruk harta masyarakat dari negara-negara tersebut. Justru ia ingin membantu kaum Muslim di sana agar bias mandiri.

Di Indonesia, misalnya, keuntungan dari perniagaan itu akan dinikmati oleh kaum Muslim di Indonesia itu sendiri.

Ismail juga mengakui, bisnis HPA sarat dengan misi mulia. Namun, untuk mewujudkan misi itu, Ismail tidak memulainya dari atas (pemerintah) lalu turun ke bawah (rakyat). Justru, Ismail bertekad tak ingin melibatkan pemerintah dan bank dalam bisnisnya. Ia lebih percaya turun langsung ke masyarakat. Dan, ini terbukti berhasil di Malaysia. Semoga berhasil juga di Indonesia! ***

Sumber: Majalah Hidayatullah September 2009)

Editor: Bangun Lubis

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close